Postingan

Do you Need MeTime?

In this weekend, i wanna talk about me time. Beberapa anggapan orang, me time itu terlihat kesepian. Padahal ya, me time itu menyenangkan. Kita jadi ada waktu untuk diri kita sendiri. Sebagai bentuk memahami diri dan berdamai dengan diri. Maybe, terlihat terlalu menyedihkan, terlihat begitu terkasihani, atau terlihat kesepian seperti anggapan beberapa orang. Beberapa orang ngga mau lakuin karena persepsi diatas. Selebihnya lagi bukan ngga mau, tapi ngga mampu. Actuallynya kita hidup bukan untuk memenuhi persepsi orang-orang. Kebahagiaan kita ada ditangan kita sendiri jika kamu lupa. And then, yang mampu melakukannya. Berbanggalah. Because not all people can do it. Ngga semua. Beberapa ingin melakukannya hanya saja tidak mampu mewujudkannya. So kamu yang udah pernah ngelakuin itu, seenggaknya bangga atas diri kamu. Kamu mampu melakukan hal-hal yang beberapa orang ngga bisa mereka lakukan. Point utamanya disini, me time itu salah satu bentuk kita lebih dekat dengan diri kita sendiri. Me ...

Pada Masanya Nanti,

Kita nyatanya tidak sendirian menyusuri jalan luka ini. Ada banyak jiwa yang sama, bahkan barangkali mengalami luka yang lebih perih dari pada apa yang kita keluhkan hari ini. Setiap dari kita punya episode patah masing-masing, hingga langkah tertatih, semangat meredup, dan betapa hidup membanting kita begitu keras. Pada jalan-jalan sunyi, kita mencoba mencari arti. Pada masa lalu, kita coba mendamaikan diri. Pada Allah, kita akhirnya kembali. Memang beginilah hidup, jalannya tak selalu mulus. Tak selamanya keadaan itu berpihak. Tak selamanya semua hal ada dalam kendali. Itulah kenapa kita harus selalu bersiap agar mampu menerima apa pun yang akan terjadi, sepahit apa pun itu. Kita pernah sepi, tapi bukan berarti kita mati. Kehidupan kita pernah getir, tapi bukan berarti kita berakhir. Kepahitan-kepahitan hari ini sejatinya adalah benih-benih kebahagiaan di masa depan. setelah badai berlalu, insyaAllah kita akan lahir sebagai pribadi yang lebih siap, pribadi yang lebih kuat. Pada m...

Buat Kamu

Izinkan aku menyampaikan sepatah dua kata sejenak ya. 'Stay alive' Apapun yang kamu rasakan hari ini. Bagaimana pun hidup membenturmu hari ini. Aku harap kamu selalu punya alasan kenapa kamu harus tetap hidup. Jangan biarkan omong kosong yang ada di kepalamu menghancurkanmu. Percayalah bahwa hidup lebih baik daripada mati dengan mengenaskan dan dengan cara yang buruk. Lihatlah hal-hal kecil di sekelilingmu. Jika tidak bisa bertahan demi orang lain, setidaknya bertahanlah untuk dirimu sendiri. Untuk setiap makanan pedas, langit biru yang selalu menarik perhatianmu, untuk bau tanah saat hujan datang, untuk ibadah yang harus kamu perbaiki, untuk cerita yang belum kamu selesaikan, dan untuk list buku yang belum selesai kamu baca. Aku engga tau seberapa banyak masalahmu, tapi kamu harus tau rencana Tuhan lebih luas dari kesakitan mu. Jadi, tetaplah hidup sampai kematian sendiri yang menjemputmu . semangat 🤗🤍 –nov, with love.

Luka, Ikhlas, dan Yakin.

Teruntuk kamu yang sedang patah hati dan terluka, Aku tau ini sulit bagimu. Aku pun pernah mengalaminya. Jadi setidaknya, aku tau bagaimana rasanya. Sungguh, bukannya ingin menggurui atau apa. Sungguh, tidak ada maksud untuk menyepelekan luka. Aku pun pernah merasakan kehilangan di saat aku benar-benar jatuh cinta. Bahkan aku telah memantapkan hati memilihnya. Oh tidak, aku tidak menjadikannya pilihan, tapi hatiku menjadikannya tujuan. Yaa.. sesorang yang aku tuju.  Sulit memang. Saat itu tidaklah semudah saat ini ketika aku membagikan cerita ini. Jangan kau bayangkan hatiku tidak pilu. Jangankan merelakannya, mempercayai kenyataan yang terjadi saja aku harus berjuang keras. Depresi. Itu menjadi salah satu masa yang harus aku lalui. Meskipun begitu, aku masih berusaha memainkan peran menjadi sosok yang tangguh. Setidaknya, aku mampu tetap tegap berdiri dan tersenyum pada dunia. Berpura-pura seolah aku baik-baik saja.  Padahal di saat aku berada dalam kesendirian, aku harus mel...

Esok, luka itu akan mengering

Pernahkah kamu berharap pada seseorang. Kamu berharap kebaikannya, kehadirannya, perhatiannya, kasih sayangnya, Tapi Seringkah engkau dikecewakannya, menangis karenanya, disakiti olehnya ? Lalu Pantaskah kamu masih berharap padanya? Ataukah dalam kecewa, dalam tangis dan dalam sakit itu adakah kebahagiaan yang kamu dapatkan? Apakah dengan kecewamu, dia berubah menjadi baik ? Apakah dengan tangismu, dia akan hadir? Ataukah dengan perasaan sakit hatimu, dia menyayangimu? Mungkin jawabannya TIDAK Jadi Bukankah ini saatnya untuk kamu pergi, berpaling, menjauh? Setidaknya pergilah dari rasa kecewa itu. Berpalinglah untuk tetesan airmata itu.  Menjauhlah untuk membahagiakan hatimu. Sulitkah itu bagimu? Jika “YA” Pikirkanlah betapa dia tak pernah mengharapkanmu, mempedulikanmu, memikirkanmu. Tanpa kamu sadari Kamu telah hanyut dalam harapan, impian dan angan kosongmu Sedikit kata darinya sudah membuat kamu merasa diperhatikan Sedikit senyum darinya sudah ...

Yang Sempat Hadir

Untuk kamu, Yang sempat hadir.  Apa kabar? Sudah lama kita tak bersapa. Jangankan bersapa, saling mengenal pun sudah tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu, dan kau? entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak. Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kau mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Untuk apa. Lalu jika kau mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak. Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap kau sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis. Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah. Cinta kita hanyalah cinta monyet. Cinta yang tumbuh lewat media sosial. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar kabar lewat handphone. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap k...